Akhir-akhir ini ada yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari saya – kuliah, organisasi, rokok -. Suatu kebiasaan baru akibat terkontaminasi teman-teman yang baik hati, pintar dan rajin menabung. Baca, membaca tepatnya. Ternyata membaca itu menyenangkan. Kegiatan ini selain bisa digunakan sebagai obat susah tidur, ternyata bias juga mengisi kehampaan. Kehampaan karena minimnya kegiatan akhir-akhir ini, kehampangan karena tidak ada kekasih. Sialan. Alhasil, dengan perjuangan selama kurang lebih sebulan saya berhasil membabat (baca : membaca) 1 buku. Novel tepatnya. Novel dengan judul ”Laskar Pelangi”, novel yang menarik. Saya malas untuk mendeskripsikan content bukunya. Pokoknya menarik. Titik.
Socrates Cafe, buku berikutnya yang bakal mengisi hari-hari hampaku. Shit. Sulit untuk langsung bisa paham sama isi buku ini. Mungkin karena penulisnya dari ”luar”, otomatis content dengan bahasa asing ditranslate ke dalam bahasa Indonesia. Belajar bertanya!! Itu ini yang saya dapat dari sekilas membaca buku ini.
Pertanyaan pertama dalam benak saya, siapakah Socrates??
Socrates diperkirakan berprofesi sebagai seorang ahli bangunan (stone mason) untuk mencukupi hidupnya. Penampilan fisiknya pendek dan tidak tampan, akan tetapi karena pesona, karakter dan kepandaiannya ia dapat membuat para aristokrat muda Athena saat itu untuk membentuk kelompok yang belajar kepadanya.
Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para siswanya terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail.
Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Kebanyakan yang kita ketahui mengenai buah pikiran Socrates berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya.
Salah satu catatan Plato yang terkenal adalah Dialogue, yang isinya berupa percakapan antara dua orang pria tentang berbagai topik filsafat. Socrates percaya bahwa manusia ada untuk suatu tujuan, dan bahwa salah dan benar memainkan peranan yang penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan dan sesamanya. Sebagai seorang pengajar, Socrates dikenang karena keahliannya dalam berbicara dan kepandaian pemikirannya. Socrates percaya bahwa kebaikan berasal dari pengetahuan diri, dan bahwa manusia pada dasarnya adalah jujur, dan bahwa kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang membebani kondisi seseorang. Pepatahnya yang terkenal: “Kenalilah dirimu”.
Socrates percaya bahwa pemerintahan yang ideal harus melibatkan orang-orang yang bijak, yang dipersiapkan dengan baik, dan mengatur kebaikan-kebaikan untuk masyarakat. Ia juga dikenang karena menjelaskan gagasan sistematis bagi pembelajaran mengenai keseimbangan alami lingkungan, yang kemudian akan mengarah pada perkembangan metode ilmu pengetahuan.
Socrates percaya akan gagasan mengenai gaya tunggal dan transenden yang ada di balik pergerakan alam ini. Dengan demikian, Socrates memiliki pandangan yang bertentangan dengan kepercayaan umum masyarakat Yunani saat itu, yaitu kepercayaan pada kuil (oracle) dari dewa-dewa.
Pandangan yang ia bawa tersebut akhirnya membuatnya dipenjara dengan tuduhan merusak ahlak pemuda-pemuda Athena. Pengadilan dan cobaan yang dialaminya digambarkan dalam catatan Apology oleh Plato, sedangkan serangkaian percakapannya dengan para siswanya ketika ia dipenjara digambarkan dalam Phaedo, juga oleh Plato. Bagaimanapun, Socrates dinyatakan bersalah dan ia ditawarkan untuk bunuh diri dengan meminum racun. Penawaran tersebut diterimanya dengan tenang, meskipun para siswanya telah berulangkali membujuknya untuk melarikan diri. Menurut Phaedo, Socrates meninggal dengan tenang dengan dikelilingi oleh kawan-kawan dan siswanya.
Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.
Secara garis besar, buku ini tidak menceritakan secara eksplisit siapa socrates. Tapi metode yang (mungkin) Socrates terapkan digunakan kembali oleh penulis dalam bentuk yang modern.



sipp deh jems…
besok-besok lebih banyak lagi baca bukunya trus bisa jadi filsuff atau kaum pemikir intelektual d.. hehehe…