Gedung F, salah satu gedung tertinggi di kampus saya, kampus hijau, yang (dulu) merupakan salah satu universitas swasta ternama dan terbesar di Indonesia. Gedung dengan 5 lantai yang walaupun masih terbilang baru tapi mempunyai cerita tersendiri dari gedung-gedung lain disekitar area kampus. Ada suatu cerita mistis mengenai gedung ini dikalangan mahasiswa. Antara percaya dan tidak, beberapa mahasiswa yakin bahwa di lantai 2 gedung ini ada sosok “penunggu” gedung. Percaya atau tidak, itulah misteri.
Kantor Fakultas Hukum dan Fakultas Bahasa dan Sastra berada dalam area gedung ini, masing-masing terletak di lantai 4 dan lantai 5. Lantai 2 dan 3 dari gedung ini, sering digunakan sebagai tempat perkuliahan. Di beberapa ruang di lantai yang sama digunakan juga untuk kegiatan operasional LKFE (Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi). Di lantai satu juga digunakan sebagai tempat perkuliahan dan kegiatan operasional lembaga legislatif (milik) mahasiswa dengan kode ruang F 114G. Saya salah satu fungsionaris lembaga ini selama 2 periode masa jabatan, 2006/2007 dan 2007/2008.
“G”
“G” merupakan singkatan dari gudang. Ya, sebelum digunakan sebagai ruang kantor, ruang kecil itu dulunya memang gudang. Selain diartikan sebagai gudang, insial G juga digunakan untuk membedakan ruang ini dengan ruang yang berada persis disampingnya yang sering digunakan sebagai tempat perkuliahan yang juga diberi kode 114. Saya tidak menyangka akan menjadi salah satu dari bagian sejarah misi lembaga perwakilan di ruangan tersebut. Saya tidak menyangka berada sekantor dengan orang-orang yang merupakan representasi dari ratusan mahasiswa FE yang menamakan dirinya fungsionaris. Saya tidak menyangka di dalam ruang itulah saya mengerti apa itu “pembelajaran”. Saya tidak menyangka akan menemukan cinta di dalam ruang itu, ruang yang dulu kami sebut GUDANG.
***
Hari esok memang tidak bisa ditebak. Saat saya yakin sudah menemukan angin itu. Seperti itulah saya
mendefinisikan cinta. Seperti angin yang tidak bisa disentuh tapi bisa memberikan kesejukan bila dirasakan. Saya pernah menemukan angin itu. Angin yang bukan hanya memberi kesejukan tapi mengajar bagaimana cara merasakan keberadaan angin itu. Saat angin itu telah pergi, ia digantikan oleh angin-angin yang lain. Angin-angin itu ada yang berasal dari ruang itu. Ruang yang dulu kami sebut gudang!
Ya, tidak salah lagi. Saya menemukan penggantinya. Pengganti angin yang terdahulu. Walaupun tidak sesejuk yang dulu, tapi kesejukannya bisa mengobati, mengobati kesepian, walau hanya sesaat. Tidak ada yang abadi, tidak bertahan lama. Dia pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali. Tapi di dalam gudang itu, masih terasa kehadirannya, walaupun tidak sesejuk dulu. Mungkin sudah saatnya untuk berhenti. Berhenti berharap. Biarlah gudang itu yang menyimpan sejarah kita.
***
Periode 2007/2008, sepertinya periode ini menjadi periode terakhir saya di lembaga ini. Rasa jenuh dengan ketidakdinamis suasana di lembaga ini semakin memperkuat keinginan saya untuk segera keluar dari sini. Tidak ada lagi sesuatu yang menantang untuk saya hadapi di tempat ini. Lagipula, saya tidak mau berada dalam sejarah kelabu saya di dalam gudang ini. Sudah cukup. Dihari-hari terakhir saya di ruangan ini, dia datang, lagi. Apa maksudnya? Memberi kesejukan? Atau menulis cerita baru dengan judul “jatuhnya sang pemimpi untuk kedua kalinya di lubang yang sama”. Tapi saya merasakan angin itu datang, lagi. Hari demi hari angin itu terasa sejuk kembali. Saya menemukan kembali kesejukan itu. Tapi, apakah masa yang lalu akan terulang kembali? Masa lalu kelabu di dalam ruangan itu. Ruang yang dulu kami sebut gudang.


